Orang Indonesia?

Sebuah artikel yang saya baca di salah satu media terkemuka di Indonesia memiliki judul: “Orang Indonesia” Cetak Gol Ketiga Belanda. Saya hanya berdesah dan berkata didalam hati, ‘Begini lagi, begini lagi.’ Saya tidak memungkiri fakta bahwa Giovani van Bronckhorst adalah keturunan Maluku asli. Saya juga tidak meragukan kekentalan nasionalisme saya. Yang membuat saya heran adalah begitu terfokusnya kita terhadap satu pemain berdarah Indonesia, sehingga terbentuk suatu kebanggaan akan fenomena tersebut dan kita seakan melupakan fakta dimana dia adalah 100% warganegara Belanda dengan gaya hidup yang sangat berbeda dengan kita. Sama halnya dengan Barack Obama yang pernah bersekolah di Indonesia dan dapat berbicara bahasa Indonesia, kita kadangkala berpikiran bahwa itu adalah hal yang sangat significant bagi bangsa kita. Saya tahu, tanda kutip diantara Orang Indonesia di artikel tersebut menandakan bahwa itu hanyalah implisit belaka. Namun bagi saya, tulisan Orang Indonesia dan “Orang Indonesia” menandakan 1 hal: kita masih memandang realita tersebut secara berlebihan.

Sabenarnya saya tidak meng-kritik si penulis, baik judul maupun isinya. Judul/tulisan seperti ini terjadi secara natural karena 1 hal: sedikit sekali dari tokoh-tokoh kita yang dapat kita banggakan. Potensi Nasionalisme kita, menurut saya, sangatlah besar. Tetapi sangat disayangkan, kita tidak mempunyai orang-orang yang bisa kita jadikan ikon masyarakat. Mungkin saya kurang sensitif terhadap figur-figur terkemuka di negara kita, tetapi kalau kita bicara tentang sepakbola, saya sangat yakin bahwa kita tidak mempunyai seorangpun yang dapat kita jadikan idola di kancah dunia.

Apakah saya terlalu berpikiran besar? Saya rasa tidak. Seorang pemain tidaklah harus bermain di AC Milan, Manchester United, atau Real Madrid. Dia tidak harus bersinar seperti Fernando Torres, Christiano Ronaldo, atau Gio van Bronckhorst sekalipun. Tetapi saya yakin, dengan mentalitas yang kuat serta pembinaan yang baik dari dini, sedikitnya satu dari 220 JUTA rakyat kita dapat berprestasi di kancah dunia. Saya rasa unsur yang paling penting di semua cabang olahraga adalah idola/icon. Dengan adanya idola/icon, penggemar olahraga terdorong untuk berprestasi seperti mereka dikemudian hari. Kurniawan Dwi Yulianto sempat memberikan kita harapan, sayang dia gagal di Eropa karena faktor mentalitas. Setelah Kurniawan, tampaknya kita tidak begitu berani mengirimkan atlit-atlit berbakat keluar negeri. Saya tidak tahu apakah itu faktor teknis atau non-teknis, yang saya tahu adalah kita tidak akan pernah kekurangan pemain-pemain muda berbakat karena negara kita adalah negara yang gila bola.

Faktor mental sangatlah berperan dalam pembinaan pemain muda, sayangnya kita sering menganggap remeh faktor tersebut. Mentalitas sebagian pemain-pemain muda kita sangatlah rapuh sehingga mereka dengan gampang merasa homesick, tidak cocok dengan keadaan sekitar, minder, mudah terpengaruh, dan sebagainya. Saya rasa, hal inilah yang harus benar-benar dirubah untuk melahirkan idola/icon yang bertaraf internasional di persepakbolaan Indonesia.

Semoga di waktu-waktu kedepan, kita tidak lagi membaca “Orang Indonesia”, namun Orang Indonesia yang sukses di negeri orang.

Salam,

Remon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s